BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Hiks


Hiks... that time you never escape and you must see that girl.

Gengar



Trauma

Sebuah cerita trauma ke Hembing:

Ibunya Zidan:

Zdn anak saya waktu bulan maret 2006, saya bawa ke tempat terapi H, selama satu bulan setiap hari, sampai saya cuti kerja, waktu itu keluhannya konsentrasi masih minim, kontak mata lumayan, iperaktif, dll ( ciri2 anak ASD lah...), hari pertama zdn datang dengan semangat sambil mulutnya yang mungil ga berenti senandung ( dikiranya ini tempat terapi sensori integrasinya yang baru kali...), begitu datang kita langsung disuruh ke tempat merendam kaki diember yang ada airnya trus dikasih listrik, zdn langsung teriak dan nangis untung mas yang terapinya sabar jadi zdn bisa menyelesaikan sesi itu walaupun dengan dipaksa dan terus menangis, setelah itu zdn langsung disuruh keruang terapi dan disuruh telanjang, disitu zdn dipaksa lagi disisir pake sisir yang ada listriknya (sekitar 5 menit), zdn teriak2, untung mba terapisnya sabar jadi sesi ini bisa diselesaikan.... sekitar 10 menit kemudian datang terapis lagi bawa palu yang ada listriknya trus badan anak saya dipegang oleh 4 orang ( 2 suster, saya dan ayahnya) anak saya meronta2 kesakitan, dan badannya dipukul2 pelan oleh terapis, tapi kayaknya listriknya gede soalnya waktu palunya kena tangan saya terasa sakit, kemudian kita nunggu lagi sekitar setengah jam, dengan kondisi anak yang ketakutan dan ga pake baju, kemudian Prof. H datang langsung mukul2 pelan kepala dan wajah zdn pake palu yang ada listriknya tanpa ada komunikasi dulu dengan kita (soalnya terburu2 pasiennya banyak), zdn meronta kesakitan (masih dipegang 4 orang ) , sampai2 mulutnya berdarah, begitu H keluar saya langsung nangis ga tega melihat anakku diperlakukan seperti itu, sampai rumah anak saya langsung tidur dan kelihatan lemes sekali., besoknya saya ga mau datang lagi tapi suami saya masih penasaran, katanya saya harus tega demi kesembuhan, akhirnya saya berangkat juga sendirian karena suami harus masuk kantor, begitu turun taksi didepan gang tempat terapi, kaki dan tangan anak saya langsung dingin, wajahnya pucat dan dia meluk saya kuat2 minta pulang lagi, saya tenangkan dia saya pegang dadanya berdetak kencang sekali, anakku ketakutan luar biasa..., sampai ketempat H anakku langsung lari balik lagi sampai hampir tidak terkejar oleh saya untung ada tukang parkir kalo ga mungkin akan terus lari menerobos jalan yang kendaraannya banyak sekali, akhirnya saya paksa zdn masuk dalam kondisi yang sangat ketakutan dan prosesi masih sama seperti kemarin, tiap hari zdn menjalani terapi tersebut, mulutnya sering berdarah karena dipaksa, hiperaktifnya betul hilang tapi badan anak yang gesit jadi lemes, badannya kurus karena harus diet ketat yang paling parah adalah traumanya yang belum hilang sampai sekarang, setiap dibawa ketempat baru dan ketemu orang baru dia ketakutan luar biasa, anakku sekarang jadi anak penakut dan pasif padahal sebelumnya anak yang ceria, lucu, gesit, dan selalu tersenyum.... konsentrasinya juga tidak tambah bagus.

Maafkan mama nak, mama sudah melukai kamu...sekarang PR saya bertambah dan tidak ada waktu libur untuk diri sendiri karena waktu libur harus saya pake mengantar zdn ke tempat2 keramaian, berkunjung ke rumah saudara atau teman yang ada anak kecilnya, untuk menghilangkan trauma yang mendalam dan mengembalikan anakku yang ceria seperti dulu......andai waktu bisa kembali mungkin tak akan pernah saya bawa anak saya ke tempat seperti itu..... maafkan mama nak.....

Ibunya Raihan:

jujur aja, saya juga punya pengalamana seperti ini waktu umur raihan 3.6 tahun... sammmmaaaaa persis dengan cerita mama zidan (jadi nangis inget kebodohan saya waktu itu). sedih dan nggak tega liat raihan diperlakukan seperti itu, cuman dasarnya orangtua masih bodoh dan mengharap kesembuhan buat raihan, terapi tersebut sempat saya teruskan sampai 1 bulan (katanya sebulan pertama emang nggak boleh berhenti).

memang setelah seminggu pertama raihan agak tenang, tapi tiap kali mau "dipalu" raihan pucat , dadanya berdebar kenceng dan badannya dingin sekali (stress berat saya kira). kemudian, karena saya perhatikan raihan tidak juga ada kemajuan (raihan tidak hiperaktif, karenanya saya tidak melihat adanya kemajuan yang signifikan), akhirnya saya hentikan terapinya (salah satunya yah karena sedih dan nggak tega liat raihan diterapi dengan cara seperti itu). lagi pula, karena raihan bermasalah dalam hal makanan (diet cara H ketat sekali!!), saya tidak melaksanakan diet untuk raihan. pernah saya coba 3 hari diet, ternyata raihan sama sekali mogok makan...waduh, gawat kalo begini. ya sudah, akhirnya saya kembali ke pola lama. tetep makan seperti biasa, tentunya dengan pola sehat yang sudah saya anut selama ini untuk raihan, nggak peduli deh ama diet2 yang katanya harus dijalankan...

kalo dibilang trauma, jelas raihan trauma ... buktinya setelah berhenti dari H pun, trus waktu di tv nggak sengaja nonton acara ada H nya, raihan langsung teriak "mamau...mamau, ma" (maksudnya, nggak mau...nggak mau, ma). trus waktu dia lihat kartu nama H yang ada fotonya, dia juga spontan berteriak seperti itu. bahkan waktu saya ajak naik taksi ke bandara (jemput ayahnya), dia tegang sepanjang jalan sampai akhirnya pas taksi jalan lurus ke arah bandara (saya dari arah tanjung priok) bukan ke arah slipi, sperti klo biasa ke tempat H, baru deh dia tersenyum senang. lumayan butuh waktu lama buat hilangkan trauma raihan, karena sampai berkali-kalii lewat jalan tol itu, dia masih ingat dan takut dibawa kesana lagi. sampai-sampai tiap saya harus bawa raihan bolak-balik lewat jalan tol itu, hanya untuk meyakinkan raihan bahwa dia nggak dibawa kesana lagi. untungnya sekarang raihan udah normal, dan biasa lagi. maafkan mama nak, mama janji nggak akan bawa raihan ke tempat2 "aneh" lagi... nggak sebanding hasilnya (nggak ada !!) dengan trauma raihan. coba klo saat itu sya terusin sampe...2 bulan, 3 bulan... duh nggak sanggup ngebayanginnya deh.

semoga hal ini juga bisa menjadi pelajaran untuk teman2 sesama orangtua special yang punya anak special, supaya lebih jeli dan waspada tentang terapi2 yang mengklaim bisa menyembuhkan anak2 kita...

Ibunya Daffa:

Saya juga igin berbagi cerita tentang pengobatan di Prof. H. Hal ini terjadi jauh sebelum saya bergabung dalam milis PK ini, dimana pada waktu itu kami masih mencari informasi tentang hiperaktif dan autis.

Pada saat Daffa berusia 2 tahun ia dinyatakan hiperaktif, tetapi kami khawatir Daffa masuk dalam spectrum autis. Setelah mendapat informasi dari salah seorang keluarga, kami membuat janji ketemu dgn dr MB untuk berkonsultasi lebih lanjut. Namun giliran ketemu masih 6 bulan lagi. Karena kami berfikir harus berpacu dengan waktu, maka setelah membaca buku yang kami beli di Gramedia (ttg Pengobatan Jarum Mutakhir), kami membawa Daffa ke Prof. H. Namun ternyata keputusan tersebut awal dari penderitaan buah hati kami karena sampai saat ini trauma yang ditinggalkan belum hilang (sudah 1,2 tahun berselang). Daffa memang tidak hiperaktif lagi, tetapi itu semua karena diet ketat yang dilakukan, bukan karena pengobatan jarum mutakhir.

Harga yang harus kami bayar untuk trauma yang ditinggalkan pengobatan jarum mutakhir sangat mahal, karena Daffa menjadi anak yang penakut dan pendiam (sebelumnya ia sangat periang dan mandiri). Ia menjadi sangat takut dengan dunia luar, dengan orang baru bahkan dengan pakaian bagus (karena kalau pakai baju bagus akan di bawa ke Prof. H.). Pada saat kakaknya sakit dan ia kami bawa untuk menemani kakaknya ke RS, begitu turun dari mobil...Daffa muntah2, menggigil, berkeringat dingin, dan merintih melihat ruang tunggu RS karena ketakutan. Saya merasa sangat berdosa karena telah membuat buah hati saya seperti itu (semoga kelak dia memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan ibunya). Daffa juga mengalami trauma apabila melewati jalan Sudirman dan Slipi yang biasa kami lewati, ia akan menutup matanya, jantungnya berdegup kencang, merintih dan berkeringat dingin.

Berdasarkan pengalaman tersebut diatas dan juga pengalaman anak-anak lain, sebaiknya para orang tua berfikir lebih jauh untuk memberikan pengobatan alternative kepada buah hati kita, jangan sampai melukai bathin dan mengorbankan hak asasi mereka. Penyesalan memang datang terlambat, smoga jangan ada lagi anak-anak yang trauma seperti yang dialami oleh Daffa, Reihan, dll...